Selasa, 20 Januari 2026

TARI GANDRUNG

 

Tari Gandrung merupakan salah satu warisan budaya khas dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kata “gandrung” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti “tergila-gila” atau “cinta habis-habisan”. Tari ini mencerminkan ekspresi rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah sekaligus sebagai sarana hiburan rakyat. Dalam pertunjukannya, Tari Gandrung dibawakan oleh seorang penari wanita profesional yang menari bersama tamu pria secara bergantian, diiringi oleh alunan musik tradisional gamelan. Secara gaya dan fungsi, Tari Gandrung memiliki kesamaan dengan kesenian daerah lain seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan sebagian Jawa Timur, Lengger di Banyumas, serta Joged Bumbung di Bali.

Sebagai salah satu identitas budaya yang kuat di ujung timur Pulau Jawa, Tari Gandrung Banyuwangi resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2013, dalam domain Seni Pertunjukan. Penetapan ini menegaskan pentingnya nilai budaya yang terkandung dalam Tari Gandrung sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga kelestariannya.

Pasca penetapan tersebut, sejumlah upaya strategis perlu terus dilakukan dalam tiga ranah utama: pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan. Dalam ranah pengembangan, perlu dilakukan inovasi koreografi, regenerasi penari melalui pelatihan di sanggar seni, serta dokumentasi tari secara digital agar dapat diakses luas oleh masyarakat dan generasi muda. Dalam aspek pemanfaatan, Tari Gandrung dapat terus dihadirkan dalam berbagai event kebudayaan lokal maupun nasional seperti Festival Gandrung Sewu yang diadakan setiap tahun di Banyuwangi, sekaligus menjadi daya tarik pariwisata budaya. Sementara itu, ranah pembinaan mencakup pendampingan terhadap komunitas seni lokal, dukungan pendanaan dari pemerintah daerah, serta penyusunan kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah untuk menanamkan apresiasi terhadap budaya daerah sejak dini.


Sunflowers, 1888

 


“Bunga matahari adalah milikku, dengan cara tertentu”. Begitulah pepatah yang ia katakan. Sunflower, seri lukisan bunga matahari karya van Gogh yang dilukis pada tahun 1888 di Arles, Perancis, saat ia tinggal di sana. Selama masa hidupnya, Van Gogh sangat tertarik pada alam dan keindahan bunga.
Sunflower adalah salah satu bunga yang paling sering ia gambar dan lukis, energi dalam warna-warna yang hidup dengan sapuan kuas yang tebal memiliki gairah dan kekuatan, karena ia melihatnya sebagai simbol kehidupan, kebahagiaan, dan keindahan.
Lukisan Sunflower ini terdiri dari dua seri, yang masing-masing terdiri dari tujuh lukisan. Seri pertama dibuat pada Agustus 1888, sedangkan seri kedua dibuat pada Januari 1889. Dalam seri pertama, bunga matahari yang ia lukis terlihat segar dengan warna yang cerah di atas tanah, sedangkan dalam seri kedua, van Gogh menggambarkan seikat bunga matahari yang layu dan kering di sebuah vas dengan nuansa yang lebih gelap.
Ketika memulai menggambar seri lukisan Sunflower saat di Paris, van Gogh mengamati proses pertumbuhan bunga matahari di sebuah taman sekitar Montmartre. Kemudian di akhir musim, ia menemukan momen yang sangat fantastis dan aneh saat kepala bunga itu terkulai. Saat itulah, ia menyatakan kepada saudara tercintanya, Theo, dalam suratnya bahwa “Saya akan melukis bunga matahari setiap pagi, sejak matahari terbit karena bunga ini cepat layu dan ini berarti melakukan segala sesuatunya dalam sekali kesempatan”.
Makna di balik lukisan Sunflower cukup kompleks. Dengan karakteristiknya bunga matahari yang ia lukis, mengikuti matahari sepanjang hari dapat dianggap sebagai simbol kesetiaan dan ketekunan. Bagi van Gogh sendiri, lukisan ini mewakili kehidupan dan kecantikan yang sementara. Ia menghias separuh ruang studionya yang berada di Arles dengan sejumlah gambar bunga matahari, untuk ditujukan kepada teman senimannya, Paul Gauguin yang akan datang berkunjung ke rumah studionya.
Dalam lukisan bunga matahari yang berwarna kuning menyala, pelukis Gaugain menunjukan reaksinya “Semuanya berwarna kuning! Aku tidak tahu lukisan apalagi itu” dengan wajahnya yang memuji van Gogh. Karya yang dibuat pada tahun 1888 ini berwarna cerah menandakan cuacanya sedang bagus saat itu, begitu pula dengan suasana hati van Gogh sendiri.

NOKEN

 


Keberadaan Noken sudah menjadi kebudayaan yang dikerjakan secara turun temurun hingga sekarang. Sejak dahuku Noken digunakan untuk berbagai keperluan sehari-hari. Di mana fungsi sehari- harinya untuk membawa hasil kebun, hasil laut, kayu, bayi, hewan kecil, belanjaan, uang, sirih, atau makanan. Noken juga dapat dipakai sebagai tutup kepala atau badan. Sejarang panjang noken mendorong tumbuhnya hubungan antara noken dan pandangan hidup orang Papua, seperti sikap kemandirian orang Papua, kebiasaan tolong menolong. Noken dimaknai juga sebagai rumah berjalan yang berisi segala kebutuhan. Noken juga dianggap sebagai simbol kesuburan perempuan, kehidupan yang baik, dan perdamaian.

Noken dibuat dari bahan-bahan alam. Jenis pohon yang dipakai untuk membuat noken, yakni serat pohon Yonggoli dan pohon Huisa. Kedua pohon tersebut tumbuh liar di hutan Papua. Serat-serat tersebut kemudian dianyam atau dirajut. Bagi masyarakat Papua, noken mengandung banyak nilai filosofis. Noken tidak hanya sekedar tas untuk membawa barang, tapi juga banyak nilai-nilai yang diajarkan nenek moyang Papua kepada generasi sekarang.

Sumber: https://www.kompas.com/skola/read/2020/04/25/173000869/noken-tas-tradisional-khas-papua-yang-diakui-unesco?page=all.



PENCAK SILAT

 

Nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki cara pembelaan diri yang ditujukan untuk melindungi dan mempertahankan kehidupannya atau kelompoknya dari tantangan alam. Mereka menciptakan bela diri dengan menirukan gerakan binatang yang ada di alam sekitar, seperti gerakan kera, harimau, ular, atau burung elang.
 
Asal mula ilmu bela diri di nusantara ini kemungkinan juga berkembang dari keterampilan suku-suku asli Indonesia berburu dan berperang dengan menggunakan parang, perisai, dan tombak, misalnya seperti dalam tradisi suku Nias yang hingga abad ke-20 relatif tidak tersentuh pengaruh luar.

Pencak silat telah dikenal oleh sebagian besar masyarakat rumpun Melayu dalam berbagai nama. Di Semenanjung Malaysia dan Singapura, silat lebih dikenal dengan nama alirannya yaitu gayong dan cekak. Di Thailand, pencak silat dikenal dengan nama bersilat, dan di Filipina selatan dikenal dengan nama pasilat.
 
Dari namanya, dapat diketahui bahwa istilah "silat" paling banyak menyebar luas, sehingga diduga bahwa bela diri ini menyebar dari Sumatra ke berbagai kawasan di rantau Asia Tenggara. Tradisi silat diturunkan secara lisan dan menyebar dari mulut ke mulut, diajarkan dari guru ke murid, sehingga catatan tertulis mengenai asal mula silat sulit ditemukan.
 
Menyadari pentingnya mengembangkan peranan pencak silat maka dirasa perlu adanya organisasi pencak silat yang bersifat nasional, yang dapat pula mengikat aliran-aliran pencak silat di seluruh Indonesia. Pada tanggal 18 Mei 1948, terbentuklah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI). Kini IPSI tercatat sebagai organisasi silat nasional tertua di dunia.
 
Pada 11 Maret 1980, Persatuan Pencak Silat Antarbangsa (Persilat) didirikan atas prakarsa Eddie M. Nalapraya (Indonesia), yang saat itu menjabat ketua IPSI. Acara tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Keempat negara itu termasuk Indonesia, ditetapkan sebagai pendiri Persilat.
 
Beberapa organisasi silat nasional antara lain adalah Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) di Indonesia, Persekutuan Silat Kebangsaan Malaysia (PESAKA) di Malaysia, Persekutuan Silat Singapore (PERSIS) di Singapura, dan Persekutuan Silat Brunei Darussalam (PERSIB) di Brunei.
 
Telah tumbuh pula puluhan perguruan-perguruan silat di Amerika Serikat dan Eropa. Silat kini telah secara resmi masuk sebagai cabang olahraga dalam pertandingan internasional, khususnya dipertandingkan dalam ajang SEA Games.

SUMBER ARTIKEL

KERIS

 

Keris merupakan puncak budaya dalam bidang seni tempa logam yang berakar dari senjata tradisional Nusantara. Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, keris dalam perkembangannya meninggalkan fungsi dasarnya sebagai senjata dan lebih menekankan pada fungsi sosial dan nilai-nilai simbolis atas falsafah (tatanan) dan filsafat hidup (tuntunan) masyarakat Nusantara yang dikemas secara indah (tontonan). Oleh karena itu pada masanya, tiap aspek budaya keris sarat makna-nilai yang mendalam sebagau tuntunan kehidupan individu, kehidupan sosial, adat-istiadat, dan spiritual.

Keris merupakan budaya sarat makna nilai dan menjadi salah satu pedoman baku dalam berpikir dan berperilaku sehingga turut membentuk identitas dan karakter masyarakat Indonesia. Keris didudukkan sebagai suatu benda yang dianggap penting dan harus ada bagi masyarakat pendukungnya. Keris senantiasa dihadirkan dalam setiap sendi dan fase kehidupan manusia (daur hidup) semenjak manusia masih dikandungan (mitoni), kelahiran (sepasaran), pertama kali seorang anak menginjakkan kakinya ke tanah (tedak sinten), masa dikhitan (sunatan), pernikahan, hingga menjadi sarana bekal kubur. Keris senantiasa ada dalam setiap upacara adat dan spiritual yang bersifat sakral.


SUMBER ARTIKEL

ANGKLUNG


Angklung kerap menjadi simbol yang melekat dengan identitas budaya Jawa Barat. Alat musik bernada ganda ini tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Sunda, tidak sekadar sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari praktik spiritual. Dalam tradisi Sunda masa lampau, alat musik ini berfungsi sebagai alat ritual keagamaan—digunakan untuk memanggil kehadiran Nyai Sri Pohaci atau Dewi Sri, dewi padi yang melambangkan kemakmuran dan kesuburan.

Dalam karya Kehidupan Masyarakat Kanekes, Saleh Danasasmita mencatat bahwa menanam benih padi di tanah Kanekes dipandang sebagai bentuk “perkawinan” antara Nyi Pohaci dan bumi. Prosesi sakral ini selalu diiringi oleh alunan angklung. Demikian pula saat upacara seren taun—ritual panen padi—permainan angklung menjadi persembahan utama sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi.

SUMBER ARTIKEL

TARI SAMAN

 


Tari Saman merupakan warisan budaya mayarakat Gayo yang sudah ada sejak abad ke-13. Kemudian dikembangkan oleh Syekh Saman dengan memasukkan pesan-pesan keagamaan. Tari Saman umumnya dimainkan oleh belasan laki-laki yang jumlahnya harus ganjil. Para penari duduk berlutut dengan tumit mereka dan berbaris dengan rapat. Para penari mengenakan kostum berwarna hitam yang dibordir dengan motif Gayo yang berwarna-warni yang melambangkan alam dan nilai-nilai luhur. Tarian Saman menggunakan dua unsur gerak yang menjadi unsur dasar dalam Tarian Saman yaitu tepuk tangan dan tepuk dada.


KAPAL PINISI

 

Kapal pinisi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Bulukumba. Simak fakta menarik mengenai kapal pinisi berikut ini:

Apa kamu pernah mendengar atau bahkan melihat secara langsung kapal pinisi yang berlayar di tengah laut? Nah, kemegahan bentuk kapal pinisi merupakan salah satu kearifan lokal Nusantara, tepatnya Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan.

Kapal pinisi tidak hanya menjadi warisan lokal Nusantara yang masih digunakan saat ini saja. Lebih dari itu, pinisi juga menjadi salah satu jenis kapal yang telah mendunia berkat ketangguhan dan kegagahannya saat mengarungi lautan.

Dulunya, kapal pinisi biasanya digunakan untuk kebutuhan perdagangan antar pulau. Namun begitu, kapal pinisi saat ini juga banyak digunakan untuk kebutuhan pariwisata yang memberikan pengalaman berbeda kepada wisatawan.

Kemegahan kapal pinisi tidak hanya bisa nikmati secara langsung saat berlayar di tengah laut. Kamu juga bisa datang secara langsung ke Festival Pinisi XIV 2024 pada tanggal 6-8 September di Pantai Merpati, Bulukumba.

Event daerah Sulawesi Selatan yang masuk ke dalam 110 Karisma Event Nusantara (KEN) itu menjadi ajang untuk mempromosikan pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat untuk menggerakkan perekonomian lokal.

Adapun sejumlah kegiatan yang berlangsung selama penyelenggaraan Festival Pinisi antara lain Sailing Pinisi, Pabbettaeng Lopi, Bira Run, Pinisi Road Bike, dan Senandung Kopi Kahayya, Ritual Adat Andingingi, Karnaval Budaya dan tari tradisional, Expo UMKM, fashion show, serta penanaman bibit pohon bitti, mangrove, dan aksi bersih-bersih pantai.


SUMBER ARTIKEL

WAYANG KULIT

 


Wayang kulit yang terbuat dari kulit kerbau ini dipercaya sebagai cikal bakal dari berbagai jenis wayang yang dikenal saat ini. Pertunjukannya dimainkan oleh seorang dalang, diiringi alunan gamelan yang dimainkan para nayaga (pemusik), serta tembang dari para pesinden.

Setiap elemen dalam pementasan wayang kulit mengandung simbol dan makna filosofis yang mendalam. Dari segi cerita, pewayangan senantiasa menanamkan nilai-nilai luhur seperti budi pekerti, cinta kasih, serta rasa hormat antarsesama. Tak jarang, pertunjukan ini juga disisipi kritik sosial dan adegan jenaka dalam segmen goro-goro, yang membuatnya terasa hidup dan tetap relevan lintas generasi.


BATIK

 


Batik merupakan kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan pada kain itu kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu yang memiliki kekhasan. Sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai warisan kemanusiaan untuk budaya lisan dan nonbendawi sejak 2 Oktober 2009. Sejak saat itu setiap tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional.

Di Indonesia batik klasik secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, pertama adalah batik keraton, kelompok kedua adalah batik saudagaran, dan kelompok ketiga adalah batik petani. Motif batik sendiri yang tergolong klasik jumlahnya ribuan, tetapi diantara itu ada motif-motif yang tergolong sebagai babon atau motif induk yang legendaries. Motif ini banyak digunakan dalam ritual kehidupan orang jawa. Mulai dari kelahiran, pertumbuhan dalam kehidupan seseorang hingga pernikahan beserta berbagai lambang dalam menjalani kehidupan hingga upacara kematian.

Tatanan seperti ini bermula semenjak era Keraton Mataram Islam yang berdiri sekitar abad ke-16, tepatnya pada tahun 1582 di Pulau Jawa. Sejak saat ini motif-motif batik menyertai simbolisasi dalam setiap kehidupan dengan berbagai harapan dan doa, bukan sekedar strata yang awalnya sangat populer di kalangan Keraton. Motif-motif legendaris inilah yang banyak ingin diketahui oleh para peminat batik agar tidak salah dalam menyiratkan niat dan keinginan saat memilih motif batik sebagai wastra yang sekaligus bermakna busana.

Batik sendiri juga memiliki variasi yang berbeda pada motif yang sama antar daerah, karena pada motif klasik jaman dahulu sebuah karya itu hanya mengandalkan susunan ragam hias yang dijadikan ide dasar sekaligus berisi filosofi motif tersebut. Ketika untuk kedua kalinya dibuat kembali maka berpatokan pada susunan elemen-elemen yang telah ditentukan pada karya pertama. Dengan demikian, antara motif Sidomukti yang satu dengan Sidomukti lain akan sulit dibuat sama persis, apalagi jika Sidomukti tersebut dibuat di wilayah lain maka yang sering kali dijadikan patokan adalah unsur-unsur ragam hias sesuai kandungan filosofi batik tersebut.

Secara filosofis ragam hias yang terkandung dalam motif telah mewakili maknanya. Di daerah-daerah Mataram terdapat versi-versi spesifik dari daerah tersebut tanpa meninggalkan makna, kegunaan, dan filosofi yang terkandung dari motif tersebut. Seperti Sidomukti gagrak Surakarta dan gagrak Yogyakarta memiliki perbedaan terutama pada pilihan warna latarnya. Sidomukti khas Trenggalek yang sedikit berbeda dengan Sidomukti Tulungagung dan sebagainya.

Sehingga batik sebagai warisan budaya Indonesia merupakan sebuah pengakuan yang luar biasa. Pengakuan dari UNESCO tersebut menandai perjuangan Indonesia yang membuktikan betapa khasnya batik senagai budaya Indonesia. Sehingga sebagai masyarakat Indonesia terlebih generasi muda secara bersama-sama terus melestarikan dan mengembangkan nilai luhur batik sebagai warisan bangsa Indonesia.

 Susana Stela Duta Museum untuk Museum Sonobudoyo


SUMBER ARTIKEL

TARI GANDRUNG

  Tari Gandrung merupakan salah satu warisan budaya khas dari Banyuwangi, Jawa Timur. Kata “gandrung” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang ...